
Diasuh oleh; Sutomo Asngadi
Productivity Series: Seri-6 Pemikiran Tradisional dan Modern tentang Kualitas (TQM)
Pemikiran Tradisional Tentang Kualitas
Secara tradisional, pengontrolan kualitas biasanya dilakukan para produsen hanya dengan melakukan inspeksi terhadap produk ketika produk tersebut telah selesai dibuat.
Cara yang dijalankan adalah menyortir produk dengan memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Kemudian melakukan perbaikan pada produk-produk yang cacat.
Pandangan ini lebih berfokus kepada aktivitas inspeksi untuk mencegah produk-produk yang cacat ke pasaran.
Berikut ini beberapa hal yang masuk dalam kategori pemikiran tradisional tentang Kualitas :
1. Memandang kualitas sebagai isu teknis.
2. Usaha perbaikan kualitas dikoordinasikan oleh manajer kualitas.
3. Memfokuskan kualitas pada fungsi atau departemen produksi.
4. Produktivitas dan kualitas merupakan sasaran yang bertentangan.
5. Kualitas didefinisikan sebagai konformansi (conformance) terhadap spesifikasi atau standar.
6. Membandingkan produk terhadap spesifikasi. Kualitas diukur melalui derajat nonkonformansi (nonconformance), menggunakan ukuran-ukuran kualitas internal.
7. Kualitas dicapai melalui inspeksi secara intensif terhadap produk.
8. Beberapa kerusakan atau cacat diijinkan, jika produk telah memenuhi standar kualitas minimum.
9. Kualitas adalah fungsi terpisah dan berfokus pada evaluasi produksi.
10. Pekerja dipermalukan apabila menghasilkan kualitas yang jelek.
11. Hubungan dengan pemasok bersifat jangka pendek dan berorientasi pada biaya.
Konsep Kualitas moder paling tindak menurut Gersperz ada lima seperti dibawah ini :
1. Pertama, sistem kualitas modern berorientasi pada pelanggan. Produk-produk didesain sesuai dengan keinginan pelanggan melalui suatu riset pasar, kemudian diproduksi dengan cara-cara yang baik dan benar sehingga produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi desain (memiliki derajat konformansi yang tinggi), serta pada akhirnya memberikan pelayanan purna jual kepada pelanggan. Secara internal, setiap individu dalm struktur persuahaan akan mengidentifikasi siapa yang menjadi pemasok (suppliers) dan pelanggan (customers) mereka. Sistem kualitas modern menganut prinsip hubungan pemasok-pelanggan. Sehingga setiap departemen dalam mengoptimumkan aktivitas operasionalnya tanpa mempedulikan kebutuhan dari departemen lain dalam perusahaan tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan.
2. Kedua, sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya partisipasi aktif yang dipimpin oleh manajemen puncak (top management) sampai ke level Down Management dalam proses peningkatan kualitas secara terus-menerus. Jadi kalau managemen kualitas hanya dibebankan kepada Quality Assurance Department saja, setiap orang dalam Perusahaan punya persepsi tanggungjawab kualitas bukan tanggungjawabnya. Hal ini berdampak negatif secara psikologis, di mana keterlibatan secara total dan aktif dari orang-orang dalam perusahaan menjadi kurang atau lemah.
3. Ketiga, sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab spesifik untuk kualitas. Meskipun kualitas seharusnya merupakan tanggung jawab setiap orang, namun patut pula diketahui bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab yang berbeda, tergantung pada posisi kerjanya dalam perusahaan. Sebagai contoh bagian Pengembangan Produk (Product Development) bertanggung jawab untuk merancang (mendesain) produk baru yang berkualitas sesuai memenuhi keinginan pelanggan, Bagian Produksi memproses produksi yang berkualitas sesuai dengan keinginan Bagian Pengembangan Produk. Begitu juga tanggung jawab Bagian Pembelian, membeli dengan car acara yang berkualitas yaitu berkualitas material bahan baku berkualitas kedatanganya barangnya dan harganya kompetitif.
4. Keempat, sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya aktivitas yang berorientasi pada tindakan pencegahan kerusakan, bukan berfokus pada upaya untuk mendeteksi kerusakan saja. Kualitas melalui inspeksi saja adalah tidak cukup dan hal itu terlalu mahal. Meskipun tetap menjadi persyaratan untuk melakukan beberapa inspeksi singkat atau audit terhadap produk akhir, tetapi usaha kualitas dari perusahaan harus menedepankan kepada tindakan pencegahan sebelum terjadinya kerusakan dengan jalan melaksanakan aktivitas secara baik dan benar pada waktu pertama kali mulai melaksanakan sesuatu aktivitas. Dengan melaksanakan prinsip ini, usaha peningkatan kualitas akan mampu mengurangi ongkos produksi.
5. Kelima, sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya suatu filosofi yang menganggap bahwa kualitas merupakan "jalan hidup" (way of life). Isu-isu tentang kualitas selalu didiskusikan dalam pertemuan manajemen (management meeting). Semua karyawan diberikan pelatihan (training) tentang konsep-konsep kualitas beserta metodenya. Setiap orang dalam perusahaan secara sukarela berpartisipasi dalam usaha-usaha peningkatan kualitas.
Dengan demikian, sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya kultur perusahaan yang melaksanakan proses peningkatan kualitas secara terus-menerus.
Pada dasarnya sistem kualitas modern dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
1. Kualitas desain.
Kualitas desain mengacu kepada aktivitas yang menjamin bahwa produk baru, atau produk yang dimodifikasi, didesain sedemikian rupa untuk memenuh keinginan dan harapan pelanggan serta secara ekonomis layak untuk diproduksi atau dikerjakan. Kualitas desain adalah kualitas yang direncanakan. Kualitas desain itu akan menentukan spesifikasi produk dan merupakan dasar pembuatan keputusan yang berkaitan dengan segmen pasar, spesifikasi penggunaan, serta pelayanan purna jual. Siapa saja yang bertanggung jawab adalah dari Bagian Riset dan Pengembangan (R&D), Rekayasa Proses (Process Engineering), Riset Pasar (Market Research), dan bagian-bagian lain yang berkaitan.
2. Kualitas konformansi.
Kualitas konformansi mengacu kepada pembuatan produk atau pemberian jasa pelayanan yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya pada tahap desain itu yang menunjukna tingkat sejauh mana produk yang dibuat memenuhi atau sesuai dengan spesifikasi produk. Siapa yang bertanggung jawab utama terhadap kalitas konformasi yatu Bagian-Bagian Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Pembelian, dan Pengiriman.
3. Kualitas pemasaran dan pelayanan purna jual.
Kualitas pemasaran dan pelayanan purna jual berkaitan dengan tingkat sejauh mana dalam menggunakan produk itu memenuhi ketentuan-ketentuan dasar tentang pemasaran, pemeliharaan, dan pelayanan purna jual. Terdapat keterkaitan pengendalian kualitas di antara bagian atau tahap yang satu dan lainnya, yang dimulai sejak adanya permintaan pasar akan suatu produk tertentu hingga berakhir pada penggunaan produk itu oleh pelanggan.
(Bersambung)
-
Supply Chain Seri 28: Perbaikan System Procurement menggunakan Metodologi 5R/5S Supply Chain Seri 28: Perbaikan System Procurement menggunakan Metodologi 5R/5S
-
Productivity Series: Seri-8 Kualitas, Pelanggan dan Kepuasan Pelanggan (TQM) Productivity Series: Seri-8 Kualitas, Pelanggan dan Kepuasan Pelanggan (TQM)
-
Productivity Series: Seri-7 Biaya-Biaya Kualitas (TQM) Productivity Series: Seri-7 Biaya-Biaya Kualitas (TQM)
-
Productivity Series: Seri-5 Guru, tokoh, dan Pemikir Total Quality Management (TQM) Productivity Series: Seri-5 Guru, tokoh, dan Pemikir Total Quality Management (TQM)